Covid-19 dan Aliran dalam Islam
Covid-19 Antara Kaum Jabariyah dan Qadariyah
Dalam menanggapi segala persoalan di muka bumi ini umat Islam selalu terbagi ke dalam dua kelompok pemahaman yang saling bertentangan, termasuk dalam menanggapi Covid-19 ini, yakni kaum Jabariyah dan Qadariyah.
Jabariyah adalah sebuah ideologi dan sekte bidah di dalam akidah yang muncul pada abad ke-2 hijriah di Khurasan. Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan._Wikipedia)
Sedangkan Qadariyah (bahasa Arab: قدرية) adalah sebuah ideologi dan sekte bid'ah di dalam akidah Islam yang muncul pada pertengahan abad pertama Hijriah di Basrah, Irak. Kelompok ini memiliki keyakinan mengingkari takdir, yaitu bahwasanya perbuatan makhluk berada di luar kehendak Allah dan juga bukan ciptaan Allah. Para hamba berkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri dan makhluk sendirilah yang menciptakan amal dan perbuatannya sendiri tanpa adanya andil dari Allah.Wikipedia) Bahkan, paham ini meyakini bahwa Tuhan tidak bertanggung jawab sama sekali terhadap perbuatan manusia karena Tuhan sepenuhnya telah memberikan akal kepada manusia. Paham ini dipegang oleh aliran rasional, Mu’tazilah.
Diantara kedua paham yang saling bertentangan terdebiut, muncuah paham ketiga, yaitu paham Asy’ariyah. Tidak ada istilah khusus bagi aliran ini. Aliran ini berkeyakinan bahwa apa kehendak manusia dan Tuhan terdapat porsinya tersendiri. Aliran yang dicetuskan oleh Abu Hasan al-Asy’ari, seorang murid Wasil bin Atha’ seorang ulama dari kalangan Mu’tazilah. Secara sederhana, aliran ini memiliki adagium yang cukup sederhana tetapi cukup mewakili, yakni, “Manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan.” Paham ini berusaha menempuh jalan tengah dari dua keyakinan yang berseteru: Qadariyah dan Jabariyah. Penganut paham ini menyebut diri mereka sebagai Asy’ariyah, sebuah nama yang dinisbahkan kepada al-Asya’ari. Namun belakangan para pengikutnya menyebut dengan istilah Ahlusunnah waljamaah.
Ada Qadariyah Dan Jabariyah dalam Virus Corona demikian unkap Prof DR Iswandi Syahputra, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. _Republika.co.id
Kaum Jabariah dalam menanggapi situasi seperti ini menyerahkan sepenuhnya kepada Kuasa Tuhan, hidup dan mati urusan tuhan, tak ada upaya untuk menangkalnya kecuali dengan doa, mereka tetap melakukan ibadah sebagaimana mestinya, bekerja sebagaimana mestinya, mereka sama sekali tidak mengindahkan himbauan dar pemerintah setempat.
Sebaliknya kaum qadariyah berusaha sekuat tenaga untuk menghidari pandemik covid-19 dengan cara cara yg sudah diimbau oleh para ahli kesehatan, mereka berusaha untuk selalu hidup bersih dengan cara cuci tangan menggunakan saniter_walaupun bahannya dicampur alkohol_ mereka juga menggunakan masker sebagai pelindung diri, dan menyemprotkan cairan disinfektan, bila merka kena gejala langsung menghubungi pihak rumah sakit.
Lain halnya dengan penganut kedua aliran di atas. Para penganut Asyariyah menggabungkan kedua konsep di atas atau tepatnya ada dinantara kedua paham tersebut. Mereka berpuaya semaksiml mungkin untuk terhindar dari wabah Covid-19 ini dengan cara yang dilakukan oleh paham qodariah. Namun mereka juga memasarahkan sepenuhnya terhadap kekuasan Allah apabila wabah ini terjadi kepadanya. Mereka berikhtiar lahir dan bathin tetapi hasilnya dipasrahkan kepada kekuasaanNya.
Patut direnungkan tamsil yang dikemukakan oleh Prof DR Iswandi Syahputra, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menulis bahwa, Suatu hari banjir besar melanda sebuah daerah. Air naik makin tinggi hingga hampir menenggelamkan rumah.
Orang-orang pergi mengungsi. Seorang pemuka agama memilih bertahan di atas genteng rumah ibadah.
Dia amat percaya bahwa Tuhanlah yang mendatangkan banjir dan Tuhan juga yang akan menolongnya. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Tuhan.
Sebuah perahu regu penolong datang menghampiri pemuka agama itu. "Bapak, ikutlah naik perahu ke tempat aman," seru regu penolong.
“Jangan pikirkan aku. Tuhan sendiri yang akan menolongku," kata pemuka agama itu.
Air terus naik. Pemuka agama itu pun naik lagi lebih tinggi ke menara rumah ibadah.
Regu penolong kembali datang sampai dua kali untuk membujuk pemuka agama itu naik ke perahu.
Namun selalu ditolak. "Tuhan sendiri yang akan menolongku," begitu selalu jawab pemuka agama itu.
Banjir makin besar dan menenggelamkan rumah ibadah.
Pemuka agama yang nangkring di atas menara pun menemui ajalnya.
Di akhirat ia bergegas mencari Tuhan dan protes.
"Tuhan, aku ini kurang setia apa pada-Mu. Hidupku kudedikasikan pada-Mu. Tapi kok di saat banjir besar Kamu tak datang menolongku," kata dia dengan sangat emosi kepada Tuhan.
"Aku sudah mengirim tiga perahu dan kau menolak untuk mengungsi," jawab Tuhan.
Wallahualam bishowab
Bogor,6 April 2020

Komentar